Museum Manusia Purba Sangiran

Geografi Luar Biasa dan Biasa Di Luar more »

Memperingati Hari Bumi

Pelestarian Ekosistem, Pelepasan Seribu Bibit Ikan di Rowo Jombor, Jimbung. more »

Negeri Di Atas Awan ( Dataran Tinggi Dieng, Wonosobo )

Masa Pengakraban dan Studi Lingkungan Mahasiswa Baru 2012 more »

Masa Pengakraban dan Studi Wisata 2013

Pantai Klayar-Pacitan, bentang alammu sungguh sangat mempesona. more »

Makrab 2014 " Geografi Luar Biasa & Biasa Diluar "

Diposting oleh Unknown
Tawangmanggu 11Oktober 2014


Dalam Rangka Malam Pengakraban Mahasiswa Baru Pendidikan Geografi tahun 2014 ini, Dari Himpunan Mahasiswa Pendidikan Geografi Universitas Widya Dharma Klaten mengadakan Makrab yang bertujuan untuk melakukan suatu pengakraban kepada semua mahasiswa pendidikan geografi ini, Supaya tercapainya suatu kekompakkan dan kebersamaan dalam diri mahsiswa pendidikan geografi tersebut.
Pada Makrab 2014 ini, Himpunan Mahasiswa Pendidikan Geografi ini memperkenalkan profil dengan berbagai kegiatan-kegiatan yang menarik serta Sosialisasi dari BEM Universitas Widya Dharma Klaten, BEM FKIP Universitas Widya Dharma Klaten dan IMAHAGI Region III Jawa Tengah & DIY . Peserta Makrab pun terlihat sangat antusias mengikuti Kegiatan Makrab ini . Di akhir sosialisasi, Tak lupa moderator mengajak peserta Makrab untuk bersama-sama memperbaiki lingkungan disekitar dan menjaga keberlangsungan alam yang harus dipegang oleh seorang geografi yaitu Spasial, Ekologi dan regional. 
Selanjutnya acara pun dilanjutkan dengan menghidupkan api unggun, kehangatan dalam kebersamaan dan kekompakan pun semakin terasa saat kobaran api unggun pun semakin besar, canda tawa peserta makrab pun memecahkan suasana malam pengakraban itu kegiatan pun semakin seru dengan diwarnai game sambil bernyanyi menggelilingi api unggun. Udara dingin pun semakin terasa di objek wisata Tawangmangu Kab. Karanganyar.
Di hari selanjutnya, pada acara Makrab Himpunan Mahasiswa Pendidikan Geografi Universitas Widya Dharma Klaten tanggal 11 Oktober 2014. Panitia Makrab 2014 dan peserta makrab melakukan Outbond di Objek Wisata tawangmangu Kab. Karanganyar. Dengan konsep yang sama, panitia Makrab 2014 kembali melakukan pengakraban melalui outbond yang bertujuan untuk menghibur peserta makrab 2014 supaya dalam mengikuti makrab tahun ini tidak merasa jenuh. Kegiatan outbond tersebut ialah Permainan Volly Tanpa Bola, Permainan Perang Air, dan menara Air ternyata dalam kegiatan ini semakin mempererat silaturami antara peserta dan panitia makrab.(Nata De Coco)

more »

Pembukaan Lahan Kelapa Sawit, Orangutan Terancam

Diposting oleh Unknown

Perkebunan kelapa sawit merupakan ancaman utama bagi orangutan.

Kepunahan orangutan karena habitatnya dihancurkan untuk perkebunan sawit bukan lagi rahasia. Memang benar bahwa perkebunan kelapa sawit merupakan ancaman utama bagi orang utan.
Selama ini orangutan menghadapi berbagai kesulitan dalam bertahan hidup. Mulai dari penebangan di habitatnya untuk komersialisasi seperti pembuatan kertas.
Michelle Desilets, executive director di Orangutan Land Trust berpendapat bahwa penebangan hutan untuk kelapa sawit merupakan ancaman terbesar bagi alam liar di Indonesia, Malaysia, dan Papua Nugini.
Namun muncul inisiatif bagi perusahaan perkebunan sawit untuk tidak menanam sawit pada lahan yang dibuka melalui proses deforestasi. Harapannya tindakan itu dapat menyelamatkan satwa liar terutama orang utan.
Sebuah kemajuan selama 11 bulan belakangan ini, bahwa lebih dari 12 perusahaan besar, pedagang, dan konsumen minyak sawit berkomitmen. Mereka berjanji hanya akan memproduksi, membeli, atau menjual minyak sawit dari hutan yang bebas dari deforestasi.
Sehingga sebesar 60 persen perdagangan global harus mengikuti kebijakan kelapa saawit yang ramah lingkungan. Sementara menurut Rhett Butler, pendiri Mongabay.com bahwa perlu komitmen kuat bagi perusahaan kelapa sawit untuk tidak lagi membuka lahan untuk perkebunannya—sebutlah nol deforestasi.
Sekitar 85 persen minyak sawit dunia berasal dari perkebunan di Indonesia dan Malaysia. Menurut data dari Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), sejak tahun 1990 hingga 2010 seluas 8,7 hektare hutan di Indonesia, Malaysia, dan Papua dikonversi untuk perkebunan sawit. Luasnya bahkan dua kali dari wilayah New Jersey di Amerika Serikat.

Sebagian besar orangutan akan kelaparan dan mati ketika habitatnya dibuka untuk perkebunan,” ujar Desilets. Akhirnya orangutan akan merambah ke perkebunan yang baru ditanami kelapa sawit dan menghancurkannya. Sehingga tak jarang orangutan dianggap sebagai hama karena menghancurkan tanaman dan membuatnya diburu.

Menangkap dan membunuh orangutan sudah dilarang di Indonesia dan Malaysia. Kenyatannya perburuan terus terjadi. “Serangan terhadap orangutan seringkali brutal,” ujar Desilets. Tim penyelamat sering menemukan orangutan dibantang menggunakan parang, dipukuli hingga mati dengan kayu maupun besi, bahkan dibakar hidup-hidup.  Lebih parahnya lagi, anak-anak orangutanpun diperdagangkan secara ilegal.
Saat ini lebih dari 1.200 orangutan dirawat pada pusat-pusat penyelamatan dan sebagian besar dari mereka merupakan korban dari konversi habitat untuk pembukaan lahan kelapa sawit.
Kini di Kalimantan tersisa 45.000 orangutan saja, sementara di Sumatra lebih parah hanya 6.500 ekor.
Pembukaan lahan untuk kelapa sawit di Kalimantan contohnya, semakin mempermudah orang untuk memburu orangutan. Selain orangutan dianiaya, merekapun menjadi komoditi untuk diperjualbelikan. Sehingga kepunahan sama sekali tidak bisa dihindari.
Ilmuwan dari The Orangutan Land Trust memperkirakan sekitar 3.000 orangutan hilang tiap tahunnya karena konversi habitat dan perburuan. Kini di Kalimantan tersisa 45.000 orangutan saja, sementara di Sumatra lebih parah hanya 6.500 ekor.
Ditambah dengan kebakaran hutan dan gambut yang menimbulkan karbon dioksida membuat orangutan kesulitan bernapas kemudian mati. Sebuah studi tentang emisi gas rumah kaca di Provinsi Riau antara tahun 2000 hingga 2012, bahwa 5,2 juta ton karbon dioksida dihasilkan karena pembakaran lahan gambut.
Komitmen
Perlu komitmen yang tak hanya kuat tapi juga spesifik, termasuk definisi hutan, waktu hingga verivikasi.
Sementara ini sedang dirintis komitmen demi penyelamatan orangutan. “Kami optimis tentnag transparansi, akuntanbilitas, dan penegakan hukum,” papar Rich Zimmerman, executive director Orangutan Outreach. Komitmen juga perlu diperluas. Bukan hanya menjamah perusahaan kelapa sawit tapi juga industri makanan cepat saji.
Komitmen bebas deforestasi merupakan langkah positif, dengan catatan para pelaku terus memegang teguh janjinya. Harapan di masa datang agar lebih banyak perusahaan bergabung untuk melakukan penyelamatan pada alam dan satwa liar, seperti orangutan.
“Komitmen ini harus kuat,” tegas pendiri Mongabay, Butler. Ia juga menambahkan agar LSM bertindak aktif jika mengetahui ada perusahaan melanggar komitmen.
“Kami berharap hubungan antara kepala sawit dengan kepunahan orangutan dapat teratasi,” ujar Desilets.
(Laurel Neme)

more »

Singapura Ingatkan Indonesia Masalah Polusi Asap Kebakaran Hutan

Diposting oleh Unknown

Singapura merasa bahwa polusi asap lintas batas telah mengganggu wilayahnya selama beberapa dekade.

 

Pemerintah Singapura sedang fokus pada masalah pencemaran udara dari kebakaran hutan di Indonesia yang menyebabkan polusi asap di singapura. Menurut salah satu kementerian terkait, hal ini sudah sangat mendesak sehingga harus segera dilakukan tindakan konkret di lapangan.

Ada kebutuhan mendesak untuk tindakan efektif pada sumbernya, termasuk pencegahan, investigasi dan penegakan hukum terhadap perusahaan yang bersalah bertanggung jawab atas kabut itu," kata perwakilan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Air Singapura, Selasa (16/9).
Untuk mengatasi masalah tersebut, Indonesia telah mengesahkan Perjanjian Polusi Asap Lintas Batas yang diterapkan untuk seluruh negara anggota ASEAN nantinya. Singapura mengapresiasi perjanjian tersebut dan dirasa tepat untuk segera disahkan dalam waktu dekat ini dikarenakan jumlah titik api di pulau Sumatera dan Kalimantan terpantau meningkat baru-baru ini.

Isi dari perjanjian tersebut mewajibkan Indonesia untuk memperkuat kebijakan dan penegakan hukum terhadap kebakaran hutan dan penyebab asap lintas batas, serta berpartisipasi di daerah tentang masalah pengambilan keputusan.

Sebelumnya diberitakan dalam sidang paripurna DPR, Selasa (16/9), menyetujui Rancangan Undang-Undang Pengesahan Persetujuan ASEAN tentang Pencemaran Asap Lintas Batas. Indonesia menjadi peratifikasi terakhir pada Persetujuan ASEAN yang berlaku sejak 2003 itu. (Baca lebih lanjut di sini)
Sidang paripurna dihadiri 327 anggota dan dipimpin oleh Priyo Budi Santoso. Pada sidang yang juga dihadiri Menteri Lingkungan Hidup Balthasar Kambuaya dan Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa mewakili Presiden itu, seluruh fraksi dan anggota menyetujui pengundangan AATHP (ASEAN Agreement on Transboundary Haze Pollution).

Saat interupsi, Fraksi Partai Amanat Nasional menegaskan perlunya kerja sama serupa di ASEAN menyikapi pencurian ikan (illegal fishing). ”Melalui ratifikasi ini, Indonesia akan dipandang serius menyelesaikan masalah kebakaran dan asap,” kata Milton Pakpahan, Ketua Komisi VII DPR (membawahkan energi dan lingkungan hidup) di Jakarta.
Badan Lingkungan Nasional Singapura (NEA) mengatakan polusi udara Singapura naik ke tingkat yang tidak sehat pada Senin (15/9), dikarenakan asap kebakaran hutan di Indonesia dan perubahan arah angin. Asap yang datang dari sejumlah pembakaran hutan di Indonesia memenuhi udara dan mengakibatkan langit Singapura berkabut.

Otoritas Singapura mengatakan Indeks Standar Polusi selama tiga jam menunjukkan angka di atas 100, level udara yang dianggap tidak baik untuk kesehatan, berlangsung dari pukul 1 pagi sampai siang.
(Sumber: internasional.kompas.com)
(Editor :Chandra Praditya)

more »

"Lautan" Baru Ditemukan, Benarkah merupakan Sumber Air Bah Nabi Nuh ?

Diposting oleh Unknown



KOMPAS.com — Analisis gelombang seismik mengungkap adanya "lautan" pada kedalaman 643 kilometer dari permukaan Bumi.

Jangan berpikir lautan tersebut sama seperti samudra di permukaan Bumi sebab air jauh di bawah permukaan Bumi itu tidak dalam bentuk cair, tetapi berikatan dengan mineral.

Temuan ini memicu dugaan bahwa proses yang terjadi pada bagian tas mantel Bumi dan yang terkait dengan aktivitas kegunungapian juga terjadi di bagian dalam.

"Ini adalah gambaran baru struktur dari bagian Bumi tersebut," kata Brandon Schmandt, pakar geofisika dari University of Mexico yang terlibat penelitian, seperti dikutip New York Times, Senin (16/6/2014).

Hasil riset ini juga menguatkan dugaan bahwa air yang terdapat di permukaan Bumi berasal dari dalam, bukan datang dari komet di luar angkasa yang jatuh ke Bumi.

Semula, air berikatan dengan mineral di dalam Bumi pada kedalaman 2.896 kilometer antara inti dan kerak. Air lalu perlahan kehilangan gas dan akhirnya mencapai permukaan.

Untuk mengungkap adanya air di kedalaman Bumi, Schmandt dan rekannya mempelajari wilayah mantel Bumi yang disebut zona transisi, pada kedalaman 482 - 708 km.

Sebelumnya, Steven D Jacobsen, ahli mineral di Northwestern University, menyintesis mineral dengan meniru kondisi tekanan seperti di kedalaman Bumi.

Selama bertahun-tahun bereksperimen, ia akhirnya berhasil membuat mineral ringwoodite yang khas berada di kedalaman Bumi.

Mineral itu terbentuk bersama air. Logikanya, bila di kedalaman Bumi ada mineral tersebut, maka ada pula air. Akan tetapi, itu masih dugaan, perlu dibuktikan.

Schmandt menganalisis data seismik yang diambil oleh USArray, di mana 400 seismometer ditempatkan di Amerika Serikat untuk memetakan mantel Bumi.

Analisis menunjukkan adanya tanda pelelehan pada zona transisi, area di mana konveksi menyebabkan mantel bergerak ke bawah.

Pelelehan mantel terjadi di dekat permukaan, menyebabkan adanya magma yang bertanggung jawab pada adanya hot spot vulkanik.

Proses pelelehan disebut dehidrasi. Seiring mantel bergerak ke bawah, tekanan meningkat, dan mineral melepaskan molekul air.

Proses ini, seperti dalam hasil riset yang dipublikasikan di jurnal Science, diyakini menjadi tanda adanya air di kedalaman Bumi.

Ilmuwan seperti Schmandt dan Jacobsen mengatakan bahwa dengan temuan ini, maka siklus air di Bumi benar-benar terkuak. Mereka juga mendapat petunjuk asal-usul air.

Namun, ada pula penulis sains seperti Brian Thomas dari Institute for Creation Research yang berpandangan berbeda. Ia mengatakan, temuan ini memperkuat kisah Alkitab tentang air bah Nabi Nuh.

Dalam kitab Kejadian di Perjanjian Lama dikisahkan bahwa pada peristiwa air bah Nabi Nuh, mata air dari kedalaman Bumi pecah sehingga airnya "tumpah" ke permukaan.

"Tentu mungkin bahwa air yang ditemukan di bawah kerak Bumi ini merupakan jejak air dari dalam yang memancar dan memicu air bah Nabi Nuh seperti dalam Kejadian 7:11," katanya.

Dikutip Christian Science Monitor, Selasa (17/6/2014), Thomas mengatakan, "Saya tak ingin mengatakan temuan ini verifikasi signifikan dari banjir dalam Kejadian karena beberapa mungkin punya penjelasan lain. Namun, ini sesuai dengan naskah Alkitab secara umum tentang air di kedalaman Bumi.


Sumber : http://sains.kompas.com/read/2014/06/17/2203/.Lautan.Baru.Ditemukan.Benarkah.Merupakan.Sumber.Air.Bah.Nabi.Nuh.
more »

Makna 110 Patung di Peringatan Lumpur Lapindo

Diposting oleh Unknown

 
Puluhan patung manusia lumpur tertancap di atas lumpur Lapindo untuk memperingati 8 tahun semburan lumpur Lapindo di Porong, Sidoarjo, (26/5). TEMPO/Fully Syafi

TEMPO.CO, Sidoarjo - Memperingati delapan tahun tragedi semburan lumpur Lapindo pada Kamis besok, 29 Mei 2014, seorang seniman membuat karya berupa 110 patung manusia setinggi sekitar 2 meter. Patung-patung itu diletakkan di titik 21 tanggul lumpur. Mereka berbaris dengan tangan menengadah sambil memegang rongsokan peralatan rumah tangga yang dilumuri lumpur.

Jumlah 110 itu memiliki makna tersendiri bagi seniman pembuat patung, Dadang Christanto. Menurut dia, 110 patung itu bisa ditafsirkan dari berbagai aspek, tergantung siapa yang memaknainya. "Patung berbaris menunjukkan korban lumpur yang kehidupannya dulu sangat bermasyarakat, tapi sekarang tercerai-berai," kata Dadang, Rabu, 27 Mei 2014. ( Baca: 110 Patung Lumpur Lapindo Muncul di Tanggul Siring )

Sedangkan tangan menengadah ke atas, kata dia, pertanda berkabungnya korban lumpur Lapindo atas bencana alam yang mungkin tak ada duanya di dunia ini. "Dalam ilmu seni, tangan menengadah memberi kesaksian bahwa sedang berduka cita," kata dia.

Adapun alat-alat rumah tangga yang dibawa menunjukkan bahwa barang-barang serta rumah para korban lumpur sudah tenggelam. Oleh karena itu, peralatan rumah tangga itu sengaja dilumuri lumpur. "Benda-benda itu coba kami angkat kembali untuk mengingatkan soal barang-barang mereka," kata dia. (Baca: Turis Mulai Berdatangan Peringati 8 Tahun Lapindo)

Menurut Dadang, ketika karya seni rupa didasarkan pada pemikiran yang mendalam dan berangkat dari hati dengan kesungguhan untuk membela, maka bagi seniman seperti dirinya karya itu mempunyai rasa yang berbeda. Padahal, dia mengaku pernah membuat seni rupa yang sama pada 2006 lalu, tetapi getarannya ia rasakan berbeda dengan sekarang. "Saya melihat ini merinding karena seninya tinggi," katanya.

Dadang belum bisa memastikan sampai kapan patung-patung itu diletakkan di atas lumpur karena sifatnya kondisional. Bila dengan keberadaan patung itu bisa memberi dampak lebih baik pada korban lumpur, maka ia akan membiarkan karya seni itu berada di titik 21 lebih lama. Namun, jika tidak ada pengaruhnya, ia akan membawa pergi patung-patung semen tersebut. "Jadi, kondisional karena karya ini akan terus berkembang," kata dia. ( Baca: Korban Lapindo: Pemerintah Beri Harapan Kosong )

Sumber : http://www.tempo.co/read/news/2014/05/28/058580852/Makna-110-Patung-di-Peringatan-Lumpur-Lapindo
















more »

Posting Posting

LINK GEOGRAFI