Museum Manusia Purba Sangiran

Geografi Luar Biasa dan Biasa Di Luar more »

Memperingati Hari Bumi

Pelestarian Ekosistem, Pelepasan Seribu Bibit Ikan di Rowo Jombor, Jimbung. more »

Negeri Di Atas Awan ( Dataran Tinggi Dieng, Wonosobo )

Masa Pengakraban dan Studi Lingkungan Mahasiswa Baru 2012 more »

Masa Pengakraban dan Studi Wisata 2013

Pantai Klayar-Pacitan, bentang alammu sungguh sangat mempesona. more »

"Lautan" Baru Ditemukan, Benarkah merupakan Sumber Air Bah Nabi Nuh ?

Diposting oleh Unknown



KOMPAS.com — Analisis gelombang seismik mengungkap adanya "lautan" pada kedalaman 643 kilometer dari permukaan Bumi.

Jangan berpikir lautan tersebut sama seperti samudra di permukaan Bumi sebab air jauh di bawah permukaan Bumi itu tidak dalam bentuk cair, tetapi berikatan dengan mineral.

Temuan ini memicu dugaan bahwa proses yang terjadi pada bagian tas mantel Bumi dan yang terkait dengan aktivitas kegunungapian juga terjadi di bagian dalam.

"Ini adalah gambaran baru struktur dari bagian Bumi tersebut," kata Brandon Schmandt, pakar geofisika dari University of Mexico yang terlibat penelitian, seperti dikutip New York Times, Senin (16/6/2014).

Hasil riset ini juga menguatkan dugaan bahwa air yang terdapat di permukaan Bumi berasal dari dalam, bukan datang dari komet di luar angkasa yang jatuh ke Bumi.

Semula, air berikatan dengan mineral di dalam Bumi pada kedalaman 2.896 kilometer antara inti dan kerak. Air lalu perlahan kehilangan gas dan akhirnya mencapai permukaan.

Untuk mengungkap adanya air di kedalaman Bumi, Schmandt dan rekannya mempelajari wilayah mantel Bumi yang disebut zona transisi, pada kedalaman 482 - 708 km.

Sebelumnya, Steven D Jacobsen, ahli mineral di Northwestern University, menyintesis mineral dengan meniru kondisi tekanan seperti di kedalaman Bumi.

Selama bertahun-tahun bereksperimen, ia akhirnya berhasil membuat mineral ringwoodite yang khas berada di kedalaman Bumi.

Mineral itu terbentuk bersama air. Logikanya, bila di kedalaman Bumi ada mineral tersebut, maka ada pula air. Akan tetapi, itu masih dugaan, perlu dibuktikan.

Schmandt menganalisis data seismik yang diambil oleh USArray, di mana 400 seismometer ditempatkan di Amerika Serikat untuk memetakan mantel Bumi.

Analisis menunjukkan adanya tanda pelelehan pada zona transisi, area di mana konveksi menyebabkan mantel bergerak ke bawah.

Pelelehan mantel terjadi di dekat permukaan, menyebabkan adanya magma yang bertanggung jawab pada adanya hot spot vulkanik.

Proses pelelehan disebut dehidrasi. Seiring mantel bergerak ke bawah, tekanan meningkat, dan mineral melepaskan molekul air.

Proses ini, seperti dalam hasil riset yang dipublikasikan di jurnal Science, diyakini menjadi tanda adanya air di kedalaman Bumi.

Ilmuwan seperti Schmandt dan Jacobsen mengatakan bahwa dengan temuan ini, maka siklus air di Bumi benar-benar terkuak. Mereka juga mendapat petunjuk asal-usul air.

Namun, ada pula penulis sains seperti Brian Thomas dari Institute for Creation Research yang berpandangan berbeda. Ia mengatakan, temuan ini memperkuat kisah Alkitab tentang air bah Nabi Nuh.

Dalam kitab Kejadian di Perjanjian Lama dikisahkan bahwa pada peristiwa air bah Nabi Nuh, mata air dari kedalaman Bumi pecah sehingga airnya "tumpah" ke permukaan.

"Tentu mungkin bahwa air yang ditemukan di bawah kerak Bumi ini merupakan jejak air dari dalam yang memancar dan memicu air bah Nabi Nuh seperti dalam Kejadian 7:11," katanya.

Dikutip Christian Science Monitor, Selasa (17/6/2014), Thomas mengatakan, "Saya tak ingin mengatakan temuan ini verifikasi signifikan dari banjir dalam Kejadian karena beberapa mungkin punya penjelasan lain. Namun, ini sesuai dengan naskah Alkitab secara umum tentang air di kedalaman Bumi.


Sumber : http://sains.kompas.com/read/2014/06/17/2203/.Lautan.Baru.Ditemukan.Benarkah.Merupakan.Sumber.Air.Bah.Nabi.Nuh.
more »

Makna 110 Patung di Peringatan Lumpur Lapindo

Diposting oleh Unknown

 
Puluhan patung manusia lumpur tertancap di atas lumpur Lapindo untuk memperingati 8 tahun semburan lumpur Lapindo di Porong, Sidoarjo, (26/5). TEMPO/Fully Syafi

TEMPO.CO, Sidoarjo - Memperingati delapan tahun tragedi semburan lumpur Lapindo pada Kamis besok, 29 Mei 2014, seorang seniman membuat karya berupa 110 patung manusia setinggi sekitar 2 meter. Patung-patung itu diletakkan di titik 21 tanggul lumpur. Mereka berbaris dengan tangan menengadah sambil memegang rongsokan peralatan rumah tangga yang dilumuri lumpur.

Jumlah 110 itu memiliki makna tersendiri bagi seniman pembuat patung, Dadang Christanto. Menurut dia, 110 patung itu bisa ditafsirkan dari berbagai aspek, tergantung siapa yang memaknainya. "Patung berbaris menunjukkan korban lumpur yang kehidupannya dulu sangat bermasyarakat, tapi sekarang tercerai-berai," kata Dadang, Rabu, 27 Mei 2014. ( Baca: 110 Patung Lumpur Lapindo Muncul di Tanggul Siring )

Sedangkan tangan menengadah ke atas, kata dia, pertanda berkabungnya korban lumpur Lapindo atas bencana alam yang mungkin tak ada duanya di dunia ini. "Dalam ilmu seni, tangan menengadah memberi kesaksian bahwa sedang berduka cita," kata dia.

Adapun alat-alat rumah tangga yang dibawa menunjukkan bahwa barang-barang serta rumah para korban lumpur sudah tenggelam. Oleh karena itu, peralatan rumah tangga itu sengaja dilumuri lumpur. "Benda-benda itu coba kami angkat kembali untuk mengingatkan soal barang-barang mereka," kata dia. (Baca: Turis Mulai Berdatangan Peringati 8 Tahun Lapindo)

Menurut Dadang, ketika karya seni rupa didasarkan pada pemikiran yang mendalam dan berangkat dari hati dengan kesungguhan untuk membela, maka bagi seniman seperti dirinya karya itu mempunyai rasa yang berbeda. Padahal, dia mengaku pernah membuat seni rupa yang sama pada 2006 lalu, tetapi getarannya ia rasakan berbeda dengan sekarang. "Saya melihat ini merinding karena seninya tinggi," katanya.

Dadang belum bisa memastikan sampai kapan patung-patung itu diletakkan di atas lumpur karena sifatnya kondisional. Bila dengan keberadaan patung itu bisa memberi dampak lebih baik pada korban lumpur, maka ia akan membiarkan karya seni itu berada di titik 21 lebih lama. Namun, jika tidak ada pengaruhnya, ia akan membawa pergi patung-patung semen tersebut. "Jadi, kondisional karena karya ini akan terus berkembang," kata dia. ( Baca: Korban Lapindo: Pemerintah Beri Harapan Kosong )

Sumber : http://www.tempo.co/read/news/2014/05/28/058580852/Makna-110-Patung-di-Peringatan-Lumpur-Lapindo
















more »

Hari Bumi ( Earth Day ) 2014

Diposting oleh Unknown


Salam Geografi,
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, Pelaksanaan Hari Bumi dengan tema "Save The Earth Because Every Day is Earth Day" yang dilaksanakan oleh Himpunan Mahasiswa Pendidikan Geografi telah terlaksana dengan baik. Terima kasih juga kami ucapkan kepada :
1. Jajaran Rektorat Universitas Widya Dharma Klaten
2. Kaprogdi Pendidikan Geografi
3. Dinas Pekerjaan Umum Klaten
4. Persemaian Permanen Balai Pengelolaan DAS Solo
5. Kepada Desa Ngaran Mlese, Klaten
6. Delegasi Ormawa Universitas Widya Dharma Klaten
7. Panitia Pelaksanan Kegiatan
8. Keluarga Besar HMP Geografi Universitas Widya Dharma Klaten
9. Media Berita Suara Merdeka
10. Semua pihak yang telah membantu
Atas kerjasamanya dalam kegiatan ini sehingga bisa terlaksananya kegiatan ini dengan baik.

Serangkaian Hari Bumi 2014 adalah sebagai berikut :
1. Penilaian "Blue, Green & Clean" Zona Kampus
2. Penanaman di Area Kampus
3. Reboisasi Wilayah Kabupaten Klaten

Semoga kegiatan ini bisa menggugah dan menginspirasi masyarakat betapa pentingnya menjaga alam. Bumi semakin tua dan rentan dengan kerusakan, manusia tak mampu mencegah namun manusia hanya bisa memperlambat kondisi yang demikian.

Selamat Memperingati Hari Bumi, Mariki Kita Jaga Bumi Kita Tercinta.

Salam Geografi
"Geografi Luar Biasa dan Biasa Di Luar"

Gallery Hari Bumi

ESA ( English Study Association ) Pemenang Lomba Ruang Ormawa Terbersih.
Penyerahan Piagam Oleh Ketua Pelaksana (kanan) kepada Bupati ESA (kiri).


Penyerahan Bibit Tanaman Secara Simbolis Ketua Pelaksana (Zaida Candra) Hari Bumi 2014 (kiri)
Kepada Kepada Desa Ngaran Mlese Klaten (kanan).
Penanaman yang dilakukan Oleh Delegasi Ormawa Unwidha sebagai wujud partisipasi dan empati
dengan kegiatan Hari Bumi 2014.

more »

Hisapan Ombak Aneh Pantai Parangtritis Yogyakarta Dibuktikan Secara Ilmiah

Diposting oleh Unknown
 ombak besar pantai selatan larangan palung
Para praktisi ilmu kebumian menegaskan bahwa penyebab utama hilangnya sejumlah wisatawan di Pantai Parangtritis, Bantul, adalah akibat terseret rip current. Dengan kecepatan mencapai 80 kilometer per jam, arus balik itu tidak hanya kuat, tetapi juga mematikan.

Kepala Laboratorium Geospasial Parangtritis I Nyoman Sukmantalya mengatakan, sampai sekarang informasi mengenai rip current amat minim. Akibatnya, masyarakat masih sering mengaitkan peristiwa hilangnya korban di pantai selatan DI Yogyakarta dengan hal-hal yang berbau mistis. Padahal, ada penjelasan ilmiah di balik musibah tersebut.
Arus balik merupakan aliran air gelombang datang yang membentur pantai dan kembali lagi ke laut. Arus itu bisa menjadi amat kuat karena biasanya merupakan akumulasi dari pertemuan dua atau lebih gelombang datang.
Rip Current
“Bisa dibayangkan kekuatan seret arus balik beberapa kali lebih kuat dari terpaan ombak datang. Wisatawan yang tidak waspada dapat dengan mudah hanyut,” demikian papar Nyoman, di Yogyakarta.
Celakanya, arus balik terjadi begitu cepat, bahkan dalam hitungan detik. Arus itu juga bukan hanya berlangsung di satu tempat, melainkan berganti-ganti lokasi sesuai dengan arah datangnya gelombang yang juga menyesuaikan dengan arah embusan angin dari laut menuju darat.

Nyoman melanjutkan, korban mudah terseret arus balik karena berada terlalu jauh dari bibir pantai. Ketika korban diterjang arus balik, posisinya akan mudah labil karena kakinya tidak memijak pantai dengan kuat.
“Karena terseret tiba-tiba dan tidak bisa berpegangan pada apa pun, korban menjadi mudah panik, dan tenggelam karena kelelahan,” lanjutnya.
rip_current_warning

Staf Ahli Pusat Studi Bencana Universitas Gadjah Mada, Djati Mardianto, melanjutkan, apabila korban tetap tenang saat terseret arus, besar kemungkinan baginya untuk kembali ke permukaan. “Karena arus berputar di dasar laut sehingga materi di bawah bisa naik lagi,” ujar Djati.
Setelah mengapung, korban bisa berenang ke tepi laut, atau membiarkan diri terempas ke pantai oleh gelombang datang lain. Setidak-tidaknya, korban memiliki kesempatan untuk melambaikan tangan atau berteriak minta tolong. Semoga info ini bermanfaat. (icc / created:05 Januari 2013 / publish: 05 August 2013)
sumber: wordpress.com
more »

Posting Posting

LINK GEOGRAFI